CIREBON – Pemerintah Kota Cirebon terus memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi meningkatnya risiko bencana akibat perubahan iklim. Upaya dilakukan melalui perbaikan infrastruktur, penguatan masyarakat, dan kesiapan menghadapi banjir, cuaca ekstrem, serta kekeringan.

Penguatan kesiapsiagaan tersebut menjadi bagian penting seiring meningkatnya kejadian bencana di Kota Cirebon. Pada 2020 tercatat 88 kejadian, sementara pada 2025 meningkat menjadi 156 kejadian yang meliputi banjir, cuaca ekstrem, pohon tumbang, tanah longsor, bangunan ambruk, kebakaran lahan, hingga banjir rob.

e4859451-df6b-41cc-bc7a-7ff1eb7408f7.webp


Wali Kota Cirebon, Effendi Edo, mengatakan kesiapsiagaan perlu dibangun sebelum bencana terjadi. Hal tersebut disampaikannya saat Apel Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi Tingkat Kota Cirebon Tahun 2026 di Grage City Hub, Selasa (11/8/2026).

“Perubahan iklim bukan lagi sesuatu yang hanya kita bicarakan sebagai persoalan di masa depan. Dampaknya sudah kita rasakan dan kita hadapi bersama. Karena itu, kesiapsiagaan harus menjadi kebiasaan, bukan hanya dilakukan ketika bencana sudah terjadi,” ujarnya.

e4782f86-683c-421f-8ed7-5c4a582aa81e.webp


Sebagai langkah mitigasi, Pemkot Cirebon bersama Pemerintah Pusat, BBWS Cimanuk-Cisanggarung, dan PT Arida telah melakukan sejumlah penanganan di titik rawan. Di antaranya penataan kawasan Sungai Sukalila, pembangunan senderan dan pintu air, pembenahan drainase Sungai Suba, penanggulan alur sungai di Argasunya, pemasangan trash barrier, serta normalisasi drainase Jalan Cipto.

Penguatan kesiapsiagaan juga dilakukan di tingkat masyarakat. Hingga saat ini telah terbentuk 12 Kelurahan Tangguh Bencana, lima Kecamatan Tangguh Bencana, empat Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), serta 75 fasilitator terlatih. Rambu jalur evakuasi juga dipasang di sejumlah fasilitas publik hingga tingkat RW.

8e3f31ea-8297-43fe-9aa0-ab8e4b14309c.webp


Langkah tersebut diarahkan agar masyarakat memahami tindakan yang perlu dilakukan serta mengetahui jalur dan lokasi evakuasi ketika menghadapi kondisi darurat.

Selain banjir dan cuaca ekstrem, Pemkot Cirebon turut menangani dampak kekeringan pada musim kemarau. Hingga 4 Agustus 2026, kekeringan di tiga RW Kelurahan Argasunya berdampak terhadap 1.004 kepala keluarga atau sekitar 3.271 jiwa.

398c955f-2713-40b6-8cc7-d6f1c96bc45c.webp


Untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga terdampak, Pemkot Cirebon melalui BPBD, PDAM, dan PMI telah mendistribusikan sebanyak 45.000 liter air bersih. Penanganan ke depan juga diarahkan pada langkah yang lebih antisipatif agar pasokan air dapat dipersiapkan sebelum kondisi menjadi kritis.

Menurut Effendi, ketangguhan menghadapi bencana tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga kesiapan masyarakat dan kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah, BPBD, TNI dan Polri, instansi teknis seperti BBWS Cimanuk-Cisanggarung dan PDAM, PMI, dunia usaha, lembaga pendidikan, hingga relawan dan masyarakat.

08e08395-cc49-4f18-9637-2eafed903a76.webp


“Budaya sadar bencana harus kita bangun bersama, mulai dari tahap pra-bencana, tanggap darurat, sampai pascabencana. Kota yang tangguh bukan hanya kota yang mampu menangani bencana ketika terjadi, tetapi juga kota yang mampu mencegah, mempersiapkan diri, dan bangkit setelahnya,” pungkasnya.

Melalui penguatan mitigasi dan kesiapsiagaan tersebut, Pemerintah Kota Cirebon berupaya mengurangi risiko bencana sekaligus meningkatkan perlindungan masyarakat di tengah tantangan perubahan iklim.

Dokumentasi: Hasan Badri
Pengolah Informasi: Tim Informasi dan Publikasi Bidang PIKP

Bidang Pengelolaan Informasi dan Komunikasi Publik
Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Kota Cirebon
Jalan Dr. Sudarsono No. 40, Kota Cirebon
Instagram: @pemdakotacrb