Berita
100 Siswa Mulai Belajar di Sekolah Rakyat, Komitmen Pemkot Cirebon untuk Pendidikan Inklusif dan Berkeadilan
CIREBON – Awal tahun ajaran baru 2025/2026 menandai langkah baru bagi dunia pendidikan di Kota Cirebon. Suasana berbeda terasa di Jalan Pronggol No. 19, Kelurahan Pegambiran, Kecamatan Lemahwungkuk, saat derap langkah anak-anak mulai mengisi ruang-ruang belajar Sekolah Rakyat. Sekolah ini bukan sekolah biasa, melainkan bagian dari 65 lokasi percontohan program nasional dari Kementerian Sosial Republik Indonesia.
Sekolah Rakyat Kota Cirebon berdiri berdampingan dengan SMP Negeri 18 dan kini menjadi rumah bagi 100 siswa SD dan SMP yang mengawali harinya dengan harapan baru. Pemerintah Kota Cirebon, melalui berbagai instansi, turut hadir memastikan proses belajar-mengajar berlangsung secara aman dan nyaman.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Cirebon, Agus Mulyadi, yang hadir langsung dalam pembukaan kegiatan belajar mengajar, menyampaikan bahwa Pemkot Cirebon terus mendampingi proses ini.
“Hari ini, tahun ajaran baru secara serentak dimulai di seluruh jenjang pendidikan, termasuk di Sekolah Rakyat. Kurikulum dari Kemendikbud dan Kemenag telah disiapkan, dan kegiatan diawali dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS),” ujarnya.
Ia menjelaskan, penunjukan Kota Cirebon sebagai salah satu lokasi percontohan merupakan bentuk kepercayaan dari pemerintah pusat yang harus dijaga dengan baik. Evaluasi terhadap kesiapan fisik dan nonfisik telah dilakukan, dan Pemkot siap menindaklanjuti segala kebutuhan yang masih kurang.
“Sudah ada banyak dukungan dari Kementerian, baik dari segi fisik seperti bangunan dan perlengkapan, maupun nonfisik seperti tenaga pengajar dan tenaga pendukung. Namun masih ada beberapa hal teknis yang harus kita benahi bersama,” tuturnya.
Hari pertama pembelajaran dimulai dengan pemeriksaan kesehatan untuk seluruh siswa, sebagai upaya preventif dalam membangun kebiasaan hidup sehat di lingkungan sekolah. Rombongan belajar terdiri dari dua kelas untuk jenjang SD dan dua kelas untuk SMP, dengan pendekatan yang bersifat inklusif dan adaptif terhadap kondisi siswa.
“Besok, mereka akan menjalani tes kebugaran. Hasilnya akan dijadikan dasar oleh Dinas Kesehatan untuk menyesuaikan proses belajar dengan kondisi fisik anak. Ini penting agar pendidikan yang diterima benar-benar tepat sasaran dan berpihak pada kebutuhan individu,” tambahnya.
Untuk diketahui, saat ini baru tersedia tiga kamar mandi untuk putra dan tiga untuk putri dengan jumlah siswa putra 63 orang dan siswi putri 37 orang.
“Ini salah satu catatan kami. Pembagian ruang, terutama antara siswa laki-laki dan perempuan, masih harus diperhatikan lebih lanjut. Kami akan sampaikan kepada pihak terkait agar segera dilakukan perbaikan,” tuturnya.
Terkait tenaga pengajar, saat ini terdapat 13 orang yang ditugaskan, termasuk satu guru Pendidikan Agama Islam. Selain itu, telah hadir pula tenaga kependidikan seperti bendahara, tenaga administrasi, operator, juru masak, dan petugas kebersihan yang turut menopang operasional sekolah.
Yang menarik, Sekolah Rakyat tidak menggunakan kurikulum konvensional. Kurikulum yang diterapkan adalah Meme (multi-entry dan multi-exit), suatu pendekatan inovatif yang memungkinkan siswa masuk dan keluar pendidikan tidak secara seragam, melainkan berdasarkan kesiapan dan perkembangan masing-masing.
“Pemerintah Kota siap terus mendukung dan mengawal agar Sekolah Rakyat tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga tumbuh sebagai ruang belajar yang bermartabat. Kami terus berkoordinasi dengan Kementerian Sosial dan Dinas Sosial untuk memastikan pemenuhan sarana dan prasarana yang memadai,” pungkasnya.
Dokumentasi : Dede Sofyan Hadi
Pengolah Informasi : Mike Dwi Setiawati
Narahubung: Admin Prokompim (082120387359)
Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan, Setda Kota Cirebon
Jalan Siliwangi No. 84, Kota Cirebon, 45124
Instagram: @prokompimkotacirebon
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Cirebon, Agus Mulyadi, yang hadir langsung dalam pembukaan kegiatan belajar mengajar, menyampaikan bahwa Pemkot Cirebon terus mendampingi proses ini.
“Hari ini, tahun ajaran baru secara serentak dimulai di seluruh jenjang pendidikan, termasuk di Sekolah Rakyat. Kurikulum dari Kemendikbud dan Kemenag telah disiapkan, dan kegiatan diawali dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS),” ujarnya.
Ia menjelaskan, penunjukan Kota Cirebon sebagai salah satu lokasi percontohan merupakan bentuk kepercayaan dari pemerintah pusat yang harus dijaga dengan baik. Evaluasi terhadap kesiapan fisik dan nonfisik telah dilakukan, dan Pemkot siap menindaklanjuti segala kebutuhan yang masih kurang.
“Sudah ada banyak dukungan dari Kementerian, baik dari segi fisik seperti bangunan dan perlengkapan, maupun nonfisik seperti tenaga pengajar dan tenaga pendukung. Namun masih ada beberapa hal teknis yang harus kita benahi bersama,” tuturnya.
Hari pertama pembelajaran dimulai dengan pemeriksaan kesehatan untuk seluruh siswa, sebagai upaya preventif dalam membangun kebiasaan hidup sehat di lingkungan sekolah. Rombongan belajar terdiri dari dua kelas untuk jenjang SD dan dua kelas untuk SMP, dengan pendekatan yang bersifat inklusif dan adaptif terhadap kondisi siswa.
“Besok, mereka akan menjalani tes kebugaran. Hasilnya akan dijadikan dasar oleh Dinas Kesehatan untuk menyesuaikan proses belajar dengan kondisi fisik anak. Ini penting agar pendidikan yang diterima benar-benar tepat sasaran dan berpihak pada kebutuhan individu,” tambahnya.
Untuk diketahui, saat ini baru tersedia tiga kamar mandi untuk putra dan tiga untuk putri dengan jumlah siswa putra 63 orang dan siswi putri 37 orang.
“Ini salah satu catatan kami. Pembagian ruang, terutama antara siswa laki-laki dan perempuan, masih harus diperhatikan lebih lanjut. Kami akan sampaikan kepada pihak terkait agar segera dilakukan perbaikan,” tuturnya.
Terkait tenaga pengajar, saat ini terdapat 13 orang yang ditugaskan, termasuk satu guru Pendidikan Agama Islam. Selain itu, telah hadir pula tenaga kependidikan seperti bendahara, tenaga administrasi, operator, juru masak, dan petugas kebersihan yang turut menopang operasional sekolah.
Yang menarik, Sekolah Rakyat tidak menggunakan kurikulum konvensional. Kurikulum yang diterapkan adalah Meme (multi-entry dan multi-exit), suatu pendekatan inovatif yang memungkinkan siswa masuk dan keluar pendidikan tidak secara seragam, melainkan berdasarkan kesiapan dan perkembangan masing-masing.
“Pemerintah Kota siap terus mendukung dan mengawal agar Sekolah Rakyat tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga tumbuh sebagai ruang belajar yang bermartabat. Kami terus berkoordinasi dengan Kementerian Sosial dan Dinas Sosial untuk memastikan pemenuhan sarana dan prasarana yang memadai,” pungkasnya.
Dokumentasi : Dede Sofyan Hadi
Pengolah Informasi : Mike Dwi Setiawati
Narahubung: Admin Prokompim (082120387359)
Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan, Setda Kota Cirebon
Jalan Siliwangi No. 84, Kota Cirebon, 45124
Instagram: @prokompimkotacirebon
Terkini
12 Januari 2026
Optimalkan Pendapatan Daerah, Pemkot Cirebon Cetak Massal SPPT PBB-P2 Tahun 2026
9 Januari 2026
Wujudkan Sinergi Pembangunan, Pemkot Cirebon Prioritaskan Infrastruktur Dasar
7 Januari 2026
Perkuat Ekonomi Digital, Pemkot Cirebon Tekankan Etika Komunikasi bagi Wirausahawan Muda
6 Januari 2026
Pastikan KBM Segera Pulih, Pemkot Cirebon Upayakan Solusi Jangka Panjang Atasi Luapan Sungai Kalijaga
6 Januari 2026
Tinjau Tanggul Jebol di Kalijaga, Wakil Wali Kota Dorong Normalisasi Sungai dan Sinergi Lintas Sektoral
Terpopuler
28 Januari 2013
Banjir Melanda Beberapa Wilayah Kota Cirebon
29 Oktober 2025
DP3APPKB Kota Cirebon Wujudkan Lingkungan Kerja BERSINAR (Bersih Narkoba)
30 Desember 2025
Tingkatkan Standar Kebersihan Menuju Adipura, Menteri Lingkungan Hidup Dorong Penguatan Pengelolaan Sampah di Kota Cirebon
30 Desember 2025
Kunjungi Kota Cirebon, Menko Pangan Pastikan Stok Kebutuhan Pokok Aman Jelang Tahun Baru
29 Desember 2025
Pemkot Cirebon Pastikan Ibadah Natal Berjalan Kondusif dan Imbau Warga Kedepankan Empati di Malam Tahun Baru